Mereka Putus Saat Malam Prom — dan Menghabiskan 13 Tahun untuk Saling Mencari
Mereka berjanji akan saling menunggu, sampai keluarga mereka memastikan mereka tidak akan pernah bisa berbicara lagi. Tiga belas tahun kemudian, sebuah pertemuan tak terduga membuat mereka kembali berhadapan, dan apa yang mereka temukan tentang masa lalu mereka mengubah segalanya yang mereka pikir mereka ketahui tentang cinta, kesetiaan, dan orang-orang yang paling mereka percayai.
Mereka bersumpah akan menemukan jalan kembali satu sama lain… sampai orang tua mereka memastikan mereka tidak akan pernah bisa.
Selama tiga belas tahun, aku percaya bahwa anak laki-laki yang aku cintai hanya pergi begitu saja.
Aku salah.
Dan kebenaran itu mengubah segalanya.
Orang-orang dulu mengatakan bahwa apa yang kami miliki tidak nyata.
Mungkin karena kami memulainya terlalu muda. Usia dua belas adalah usia ketika semuanya terasa permanen, ketika persahabatan terasa seperti janji dan janji terasa tak bisa dipatahkan. Orang dewasa melihat cinta seperti itu dan tersenyum, seolah itu sesuatu yang akan kami lupakan.
Tapi aku tidak pernah melupakannya.
Begitu juga Ethan.
Kami bertemu di kelas tujuh karena tempat duduk yang ditentukan. Nama belakang kami berdekatan, dan entah bagaimana kebetulan kecil itu berubah menjadi segalanya. Dia sering mencondongkan tubuh dan membisikkan lelucon yang membuatku sulit tetap serius. Aku berpura-pura kesal, tapi selalu menyimpan tempat duduk untuknya saat makan siang.
Pada usia empat belas, orang-orang sudah menyebut kami pasangan.
Kami tidak pernah mengatakannya secara resmi. Kami tidak perlu.
Pada usia enam belas, dia sudah menjadi bagian dari setiap rencana yang kubuat tanpa diminta. Dia tahu saat aku sedih hanya dari cara aku mengucapkan “halo”. Aku tahu saat dia menyembunyikan sesuatu hanya dari caranya tersenyum.
Kami tumbuh berdampingan, membangun sesuatu yang tenang, stabil, dan nyata.
Itulah sebabnya malam prom terasa seperti awal dari sisa hidup kami.
Aku berdiri di depan cermin, merapikan gaunku, mencoba menenangkan diri. Di belakangku, ibuku memperhatikan dalam diam.
“Kamu terlalu muda,” katanya. “Ini bukan kehidupan nyata.”
“Ini terasa nyata,” jawabku.
Dia tidak membantah lagi. Itu justru lebih buruk.
Ethan datang beberapa menit kemudian, gugup dengan jasnya, membawa korsase seolah itu berarti segalanya. Saat dia memasangkannya di pergelangan tanganku, tangannya sedikit berlama-lama.
“Kamu terlihat luar biasa,” katanya.
“Kamu juga tidak buruk,” aku tersenyum.
Selama beberapa jam, semuanya terasa normal.
Kami menari, tertawa, berfoto. Teman-teman kami bercanda bahwa kami mungkin akan menikah suatu hari nanti.
Aku mempercayainya.
Sampai kenyataan mengejar kami.
“Kamu akan pergi setelah lulus. Akhiri ini sekarang.”
Itulah yang dikatakan ayahnya kepadanya.
Ethan mengulanginya kepadaku suatu malam saat kami duduk di atas kap mobilnya.
“Dia serius, Izzy,” katanya. “Kami akan pindah ke Eropa.”
“Untuk berapa lama?” tanyaku.
“Aku tidak tahu.”
Aku menggenggam tangannya erat. “Kita akan mencari jalan.”
Dia menatapku dengan sesuatu yang mirip ketakutan.
“Aku tidak akan menyerah pada kita.”
“Aku juga tidak.”
Janji itu membawa kami ke tarian terakhir di prom.
Lampu meredup. Musik melambat. Dia menarikku lebih dekat.
“Aku akan menemukanmu,” bisiknya.
“Aku akan menunggu,” kataku.
Aku sungguh-sungguh.
Aku hanya tidak tahu seberapa mahal harganya.
Dia pergi dua minggu kemudian.
Tanpa perpisahan di bandara. Tanpa penutupan. Hanya kehampaan.
“Aku akan meneleponmu,” katanya.
“Aku akan menunggu.”
Dan aku menunggu.
Awalnya aku percaya pada kami.
Aku menulis surat. Panjang-panjang. Aku menceritakan semuanya. Aku memeriksa kotak surat setiap hari.
Tidak ada jawaban.
Aku mencoba menelepon.
Tidak ada.
Minggu berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi keheningan.
“Aku merindukanmu. Tolong telepon aku.”
Dia tidak pernah melakukannya.
Ibuku memperhatikan dalam diam.
“Aku sudah bilang,” katanya. “Hal seperti ini tidak bertahan.”
Ada sesuatu dalam diriku yang retak.
Tapi aku tidak berhenti.
Selama tiga belas tahun, aku mencarinya.
Media sosial. Teman lama. Apa saja.
Tidak ada.
Aku tetap membangun hidup.
Aku menjadi perawat. Itu memberiku tujuan. Itu membuatku terus bergerak.
Tapi itu tidak pernah menggantikan apa yang hilang.
Sebagian dari diriku tetap tinggal di sana.
Masih menunggu.
Sampai hari itu semuanya berubah.
Pagi itu biasa saja.
Aku berhenti di kedai kopi seperti biasa sebelum bekerja. Tempat itu dipenuhi percakapan pelan.
Lalu aku mendengarnya.
“Boleh latte ukuran sedang? Dua gula.”
Jantungku berhenti.
Aku berpikir, “Suara itu…”
Aku menoleh.
Dan di sana dia berdiri.
Lebih tua. Berubah. Tapi tak bisa salah lagi.